AS vs Iran Memanas: Donald Trump Sebut Teheran Lelah, Rusia Siap Turun Tangan

AS vs Iran Memanas: Donald Trump Sebut Teheran Lelah, Rusia Siap Turun Tangan

WASHINGTON, Suarabersama – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus menjadi sorotan global. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan optimismenya di hadapan para anggota parlemen di Gedung Putih bahwa Washington akan menyudahi konflik dengan Iran dalam waktu dekat.

Menurut Trump, pihak Iran saat ini sudah mulai kelelahan dan ingin mencapai kesepakatan. Meski begitu, Trump menegaskan posisi AS yang tidak akan membiarkan Teheran mengembangkan senjata nuklir.

"Kami telah bekerja dengan sangat baik. Saya rasa masalah ini akan segera selesai dengan cara yang baik, dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir," ujar Trump, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Pernyataan Trump ini mencuat di tengah langkah Senat AS (yang didominasi Partai Republik) melakukan pemungutan suara terkait Resolusi Kekuatan Perang. Resolusi tersebut bertujuan membatasi aksi militer AS terhadap Iran, kecuali jika mendapatkan persetujuan resmi dari Kongres.

Rusia Siap Pasang Badan untuk Iran

Di sisi lain, sekutu kuat Teheran, Rusia, menyatakan kesiapannya untuk membantu. Dalam pertemuan akhir April lalu antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Presiden Vladimir Putin di Moskow, Rusia menegaskan komitmennya.

  • Pujian dari Putin: Putin memuji keberanian rakyat Iran dalam mempertahankan kedaulatan mereka dan berjanji akan melakukan segala upaya demi terciptanya perdamaian di kawasan tersebut.

  • Tawaran Mediasi: Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, menyatakan bahwa Moskow siap menjadi mediator dalam negosiasi antara AS dan Iran jika kedua belah pihak meminta. Rusia juga mengapresiasi peran aktif Pakistan yang ikut menjaga stabilitas kawasan.

Dampak Perang: PBB Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global

Konflik geopolitik antara blok AS-Israel melawan Iran ini mulai memukul sektor ekonomi dunia. PBB secara resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,5 persen (turun dari perkiraan tahun lalu sebesar 3 persen).

Dalam laporan ekonomi terbarunya, PBB memperingatkan dampak buruk perang ini:

  • Lonjakan Harga: Harga energi yang melambung dan macetnya jalur perdagangan dunia menjadi pemicu utama.

  • Masyarakat Miskin Tertekan: Keluarga berpenghasilan rendah di negara berkembang menjadi pihak yang paling menderita karena inflasi harga pangan dan energi tidak sebanding dengan upah mereka.

  • Krisis Devisa & Utang: Negara-negara miskin kini terjebak utang yang tinggi, membuat anggaran untuk kesehatan dan pendidikan menjadi terpangkas.

  • Lumpuhnya Asia Barat: Wilayah Asia Barat (Timur Tengah) mengalami hantaman paling parah akibat rusaknya infrastruktur, gangguan produksi minyak, serta rontoknya sektor pariwisata.

Olahraga

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Jakarta, kameranusantara.id - Persaingan di Indonesia Super League kian sengit setelah pekan ke-28 rampung. Persib Bandung masih bertahan di puncak

Advertisement