JAYAPURA, kameranusantara.id – Aparat gabungan terus memburu pelaku penembakan terhadap awak pesawat perintis Smart Air di Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Hingga kini, empat orang telah diamankan untuk pemeriksaan intensif, sementara pengamanan di sekitar bandara kecil tersebut diperketat.
Insiden yang merenggut nyawa dua pilot pada 11 Februari lalu mengguncang rasa aman warga Korowai. Wilayah terpencil itu sepenuhnya bergantung pada transportasi udara sebagai satu-satunya jalur mobilitas orang dan distribusi logistik.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan, di tengah suasana duka, muncul solidaritas dari para penumpang yang selamat. Mereka secara sukarela mengumpulkan dana dan menitipkannya kepada perwakilan maskapai sebagai bentuk empati kepada keluarga korban.
“Solidaritas ini menunjukkan betapa vitalnya pesawat bagi masyarakat Korowai. Tidak ada akses darat, dan wilayahnya sangat terpencil,” ujar Yusuf dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).
Korowai berada di kawasan hutan lebat dengan jumlah penduduk sekitar 100 kepala keluarga. Fasilitas publik sangat terbatas, hanya terdapat satu sekolah dasar swasta dan layanan kesehatan sederhana. Permukiman warga terpusat di sekitar landasan terbang yang menjadi nadi kehidupan setempat.
Di tengah keterbatasan itu, Polres Boven Digoel dengan sekitar 300 personel harus mengamankan wilayah yang sangat luas. Medan berat dan akses terbatas menjadi tantangan utama dalam proses pengejaran pelaku.
Menindaklanjuti arahan pimpinan Polri, Satgas Damai Cartenz menambah kekuatan personel yang didukung Brimob Polda Papua, jajaran Reskrim, serta bantuan dari Polres Yahukimo. Pengamanan perimeter bandara dan patroli di sekitar lokasi kejadian juga ditingkatkan.
Dari sekitar 20 orang yang diduga terlibat dalam penyerangan, dua telah teridentifikasi dan masih dalam pendalaman lebih lanjut. Berdasarkan keterangan saksi dan penumpang, pelaku diduga menggunakan tiga hingga empat senjata api laras panjang, sementara lainnya membawa senjata tajam seperti tombak, panah, dan parang. Aparat masih menelusuri jenis serta asal-usul senjata api tersebut.
Secara umum, kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Yahukimo diperkirakan berjumlah sekitar 200 orang dan tersebar dalam beberapa kelompok kecil. Sejak Januari hingga pekan lalu, tercatat sedikitnya 23 kasus kekerasan yang diduga terkait kelompok tersebut, dengan pola serangan yang dinilai bertujuan menunjukkan eksistensi dan menarik perhatian.
Aparat memastikan pengamanan di Bandara Korowai akan terus diperketat guna menjamin keselamatan penerbangan dan menjaga akses logistik bagi masyarakat pedalaman Papua. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!