Konflik Iran–Israel–AS Berpotensi Mengguncang Industri Chip Global

Konflik Iran–Israel–AS Berpotensi Mengguncang Industri Chip Global

Jakarta, kameranusatara.id - Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga berpotensi mengganggu industri semikonduktor global.

Sejumlah analis menilai perang yang berkepanjangan dapat memicu dua tekanan sekaligus bagi industri chip, yakni terganggunya pasokan bahan baku penting dan melemahnya permintaan akibat melonjaknya biaya energi.

Ancaman Gangguan Pasokan Bahan Baku

Industri semikonduktor sangat bergantung pada material khusus yang sebagian diproduksi di kawasan Timur Tengah. Salah satu yang paling krusial adalah helium, gas yang digunakan dalam proses fabrikasi chip untuk mendinginkan peralatan serta mendukung proses fotolitografi.

Negara seperti Qatar diketahui memasok lebih dari sepertiga helium dunia. Jika jalur distribusi terganggu, terutama melalui Selat Hormuz, pasokan global dapat terdampak signifikan.

Selain helium, bromin juga menjadi bahan penting dalam pembuatan semikonduktor. Sekitar dua pertiga produksi bromin dunia berasal dari Israel dan Yordania, sehingga konflik di kawasan tersebut dapat mengganggu stabilitas rantai pasokan industri chip.

Produsen Chip Terdampak

Ketegangan geopolitik langsung memukul saham perusahaan semikonduktor global. Dua produsen memori terbesar dunia, Samsung Electronics dan SK hynix, dilaporkan mengalami penurunan nilai kapitalisasi pasar secara signifikan sejak konflik meningkat.

Kedua perusahaan tersebut merupakan pemasok utama chip memori untuk berbagai perangkat teknologi, termasuk pusat data yang digunakan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Lonjakan Harga Energi Tekan Permintaan

Selain persoalan pasokan material, lonjakan harga energi juga menjadi faktor yang berpotensi menekan permintaan chip. Harga minyak mentah global sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel akibat konflik di Timur Tengah.

Kondisi ini meningkatkan biaya operasional pusat data yang digunakan perusahaan teknologi besar seperti Microsoft dan Amazon untuk mengoperasikan sistem AI berskala besar.

Pusat data AI diketahui membutuhkan listrik jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional. Jika biaya energi terus meningkat, perusahaan teknologi berpotensi menunda atau mengurangi investasi infrastruktur AI.

Risiko bagi Pertumbuhan Industri AI

Permintaan chip memori berteknologi tinggi, termasuk High Bandwidth Memory (HBM) yang banyak digunakan dalam prosesor grafis Nvidia, selama ini melonjak seiring pesatnya perkembangan AI.

Namun, jika konflik di Timur Tengah berlangsung lama, investor khawatir pengembangan infrastruktur AI dapat melambat. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan chip memori dan memengaruhi pendapatan produsen semikonduktor global dalam jangka panjang.

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement