Jakarta, kameranusantara.id - Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersikap terbuka dan dewasa dalam menyikapi kritik. Kritik dinilai penting sebagai sarana refleksi untuk menilai apakah seseorang maupun institusi telah berjalan di jalur kebaikan dan kebenaran.
Menurut Muhammadiyah, kritik seharusnya menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas perbuatan baik yang telah dilakukan agar kehadiran individu maupun organisasi semakin dirasakan manfaat dan maslahatnya oleh masyarakat luas. Jika di masa lalu masih terdapat kekurangan, evaluasi perlu dilakukan guna menemukan solusi agar peran sosial menjadi lebih bermakna.
Upaya untuk terus berbuat baik dan benar disebut sebagai tanggung jawab moral yang harus dijalankan secara konsisten. Dalam pandangan Muhammadiyah, organisasi yang ideal adalah yang kehadirannya membawa manfaat tidak hanya bagi internal, tetapi juga bagi umat, bangsa, kemanusiaan, serta lingkungan.
Di sisi lain, Muhammadiyah juga mengingatkan para pengkritik agar menyampaikan kritik secara proporsional. Kritik yang terlalu emosional berisiko mengesampingkan nalar, sementara pendekatan yang terlalu rasional tanpa empati dapat mengabaikan aspek kemanusiaan.
Karena itu, baik pihak yang mengkritik maupun yang dikritik diharapkan mampu mengelola perasaan dan akal sehat secara seimbang. Kebaikan lahir dari kepekaan rasa, sementara kebenaran berasal dari olah pikir. Keduanya perlu dituntun oleh nilai-nilai agama agar setiap sikap dan pendapat dapat diterima secara luas.
Muhammadiyah menegaskan, keseimbangan antara nalar, perasaan, dan nilai spiritual sejalan dengan jati diri bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga ruang dialog yang sehat di tengah kehidupan demokrasi. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!