Rupiah Sentuh Rekor Terendah, Kombinasi Faktor Global dan Domestik Jadi Pemicu

Rupiah Sentuh Rekor Terendah, Kombinasi Faktor Global dan Domestik Jadi Pemicu

Jakarta, kameranusantara.id – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terlemah terhadap dolar Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan 26 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.780 per dolar AS, memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi ini terjadi meski Bank Indonesia telah menggelontorkan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi di pasar valas hingga menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Namun, upaya tersebut belum mampu menahan tekanan yang terus membayangi mata uang nasional.

Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab utama melemahnya rupiah.

Dari sisi global, konflik yang memanas di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, mendorong investor mencari aset yang dianggap aman. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kekhawatiran pasar juga muncul karena potensi gangguan pasokan energi dunia yang dapat memicu inflasi global dan mempertahankan tingginya suku bunga Amerika Serikat lebih lama dari perkiraan.

Selain faktor eksternal, sentimen domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pelaku pasar menyoroti kondisi fiskal pemerintah yang dinilai semakin ketat setelah defisit anggaran mendekati batas maksimal yang ditetapkan undang-undang.

Perhatian investor semakin meningkat setelah sejumlah lembaga pemeringkat internasional menurunkan prospek (outlook) Indonesia menjadi negatif. Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran terkait keberlanjutan disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan ekonomi nasional.

Di sisi lain, berbagai kebijakan baru pemerintah di sektor ekspor dan pengelolaan devisa juga menjadi perhatian pasar. Meski bertujuan memperkuat cadangan devisa dan stabilitas rupiah, sejumlah investor masih menunggu kepastian terkait implementasi dan dampaknya terhadap dunia usaha.

Tekanan terhadap rupiah juga diperbesar oleh tingginya kebutuhan dolar AS di dalam negeri. Permintaan valas meningkat seiring repatriasi dividen perusahaan, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan pembiayaan musim haji.

Kombinasi faktor global dan domestik tersebut membuat rupiah terus berada dalam tekanan. Pengamat menilai stabilitas nilai tukar ke depan tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter Bank Indonesia, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan fiskal yang kredibel dan komunikasi ekonomi yang konsisten.

Dengan kondisi saat ini, pasar masih akan mencermati langkah pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memulihkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. (kls)

Olahraga

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Klasemen Super League Memanas, Persib Masih Teratas Dikejar Borneo FC

Jakarta, kameranusantara.id - Persaingan di Indonesia Super League kian sengit setelah pekan ke-28 rampung. Persib Bandung masih bertahan di puncak

Advertisement