Jakarta, kameranusantara.id - Kematian seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memantik keprihatinan luas. Peristiwa ini dinilai bukan sekadar duka keluarga, melainkan gambaran nyata persoalan kemiskinan dan akses pendidikan yang belum tuntas.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai kasus tersebut menunjukkan bahwa biaya pendidikan dasar masih menjadi beban bagi keluarga miskin. Menurutnya, situasi ini mencerminkan pertemuan antara tekanan ekonomi dan praktik pendidikan yang belum sepenuhnya berpihak pada kelompok rentan.
Ia menegaskan, konstitusi dan undang-undang telah mewajibkan negara membiayai pendidikan dasar. Namun, dalam praktiknya, masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah paling mendasar. Ubaid juga mengkritik arah kebijakan anggaran yang dinilai belum sepenuhnya fokus pada pemenuhan hak pendidikan anak.
“Ini bukan lagi sekadar peringatan, tapi tanda adanya masalah sistemik. Ketika kebutuhan belajar paling dasar saja sulit dipenuhi, berarti ada yang perlu dibenahi secara serius,” ujarnya.
Parlemen Minta Evaluasi Menyeluruh
Sorotan juga datang dari DPR. Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menyebut peristiwa ini sebagai alarm keras bagi negara dan masyarakat. Menurutnya, anak seusia sekolah dasar semestinya mendapat perlindungan dan dukungan, bukan justru menghadapi tekanan akibat keterbatasan ekonomi.
Ia menekankan pentingnya memastikan pendidikan dasar benar-benar bebas biaya, termasuk perlengkapan belajar. Selain itu, sistem perlindungan sosial dinilai harus lebih aktif menjangkau keluarga yang membutuhkan sebelum masalah berkembang menjadi tragedi.
Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani menyampaikan pandangan senada. Ia meminta negara memperkuat jaring pengaman sosial di lingkungan sekolah agar tidak ada anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan ekonomi.
Menurutnya, perhatian terhadap kondisi mental anak juga tak kalah penting. Keluarga dan lingkungan sekitar diimbau lebih peka terhadap perubahan perilaku atau keluhan anak, sekecil apa pun.
Potret Keluarga Rentan
Berdasarkan informasi yang beredar, anak tersebut berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Ibunya bekerja serabutan untuk menghidupi beberapa anak, sementara sang anak sehari-hari tinggal bersama neneknya yang sudah lanjut usia. Situasi ini menggambarkan kerentanan berlapis yang dialami sebagian keluarga di daerah.
Tragedi ini memunculkan kembali desakan agar negara memastikan pendidikan dasar benar-benar inklusif dan tidak menyisakan hambatan biaya, sekecil apa pun. Selain kebijakan, kepedulian sosial di lingkungan sekolah dan masyarakat dinilai menjadi kunci agar anak-anak dari keluarga miskin tidak merasa terabaikan. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!