Jakarta, Kameranusantara.id - Puluhan ribu warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, memadati Alun-Alun Pati pada Rabu (13/8/2025) dalam aksi demonstrasi terbesar sepanjang tahun ini. Massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pati Bersatu membawa lima tuntutan utama, dengan desakan paling keras agar Bupati Pati, Sudewo, segera mundur dari jabatannya.
Aksi ini tetap digelar meski Sudewo telah membatalkan kebijakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan (PBB-P2) hingga 250 persen. Kebijakan yang semula disepakati pada 18 Mei 2025 itu memicu gelombang protes lantaran dinilai memberatkan beban ekonomi warga.
“Meski PBB-P2 dibatalkan, banyak kebijakan lain yang juga harus dihentikan,” tegas Koordinator Aksi Ahmad Husein di hadapan lautan massa.
Selain menolak kenaikan PBB-P2, warga juga menolak kebijakan lima hari sekolah, menolak renovasi Alun-Alun Pati senilai Rp2 miliar, menolak pembongkaran total Masjid Alun-Alun yang bernilai sejarah, serta mempertanyakan proyek videotron senilai Rp1,39 miliar.
Kepolisian mencatat sekitar 100 ribu orang hadir, melampaui target 50 ribu peserta yang sebelumnya disebut Bupati Sudewo. Untuk mengamankan aksi, 2.684 personel gabungan TNI-Polri dari 14 polres dikerahkan, dengan pola pengamanan humanis tanpa penggunaan senjata api. Rekayasa lalu lintas, tim medis, hingga pemadam kebakaran juga disiapkan untuk menjaga kelancaran.
Menanggapi isu bahwa ia akan berangkat umroh demi menghindari aksi, Sudewo menegaskan dirinya tetap berada di Pati. “Tanggal 17 Agustus saya jadi inspektur upacara HUT ke-80 RI. Tidak mungkin saya tinggalkan,” ujarnya.
Aksi berjalan damai meski orator berulang kali menegaskan bahwa gelombang protes akan terus berlanjut jika tuntutan mundur tidak dipenuhi. “Kalau Sudewo tidak mundur, aksi akan kami lanjutkan sampai beliau menyatakan mundur,” tegas Teguh Istiyanto, koordinator lapangan.
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!