JAKARTA, kameranusantara.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan fenomena El Nino 2026 berpotensi meningkat dari kategori kuat menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan memicu musim kemarau yang lebih panjang dan berdampak pada berbagai sektor strategis di Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, berdasarkan perkembangan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang telah mencapai plus 1,59, fenomena El Nino saat ini berada pada kategori kuat dan berpotensi terus menguat.
"Dengan indeks ENSO plus 1,59 berada pada posisi kuat yang berpotensi menjadi sangat kuat," ujarnya dalam diskusi di Bappenas, Selasa (4/8/2026).
BMKG memprediksi peningkatan intensitas El Nino akan menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori rendah hingga sangat rendah, terutama saat puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026.
Wilayah di selatan garis khatulistiwa diperkirakan menjadi daerah yang paling terdampak. Kawasan tersebut meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian wilayah Sumatera bagian selatan yang diproyeksikan mengalami musim kering lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
"Yang sangat signifikan dipengaruhi El Nino adalah daerah Indonesia di bawah garis khatulistiwa," kata Faisal.
BMKG menilai dampak El Nino tidak hanya dirasakan pada kondisi cuaca, tetapi juga berpotensi mengganggu berbagai sektor pembangunan. Di bidang pertanian, musim kering yang berkepanjangan dapat menurunkan produksi akibat terganggunya kalender tanam.
Sementara itu, sektor energi juga menghadapi risiko penurunan pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) karena berkurangnya debit air di bendungan.
Selain itu, ancaman juga membayangi ketersediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi, peningkatan kebakaran hutan dan lahan, sektor kesehatan, kelautan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
BMKG juga memperingatkan fenomena El Nino berpotensi menyebabkan suhu udara di Indonesia terasa lebih panas dari biasanya. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2027 sebagai dampak dari anomali iklim global. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!