Kameranusantara.id - Pemahaman terhadap ideologi negara menghadapi tantangan seiring perkembangan teknologi digital dan perubahan pola interaksi sosial. Nilai-nilai Pancasila dinilai perlu terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak sekadar menjadi hafalan atau pengetahuan teoritis.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya Muhammad Fadeli menawarkan pendekatan komunikasi partisipatif sebagai salah satu upaya memperkuat pengamalan Pancasila di tengah perubahan sosial.
Pendekatan tersebut memberikan ruang kepada masyarakat untuk terlibat aktif dalam dialog, membahas berbagai persoalan yang dihadapi, sekaligus mencari dan menyepakati solusi secara bersama-sama.
“Pola ceramah, hafalan, dan ujian perlu dilengkapi dengan pendekatan partisipatif yang memberikan ruang kepada masyarakat untuk berdialog menyepakati solusi bersama,” kata Fadeli saat Webinar Nasional Ikatan Maheswara dan Penceramah Indonesia (IMPI), dikutip Selasa (18/8/2026).
Fadeli yang juga merupakan penceramah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Menurutnya, pemahaman ideologi negara tidak cukup jika hanya sebatas teori.
“Pancasila itu tidak cukup hanya diketahui. Ideologi ini harus menjadi pedoman bertindak, berawal dari nilai yang dihafal, lalu dibicarakan dan dilakukan secara bersama-sama,” paparnya.
Menurut Fadeli, komunikasi partisipatif memungkinkan masyarakat tidak hanya menerima nilai secara satu arah. Masyarakat dapat membahas berbagai persoalan di lingkungannya, mengaitkannya dengan nilai Pancasila, kemudian mencari solusi yang dapat diterapkan secara bersama.
Diskusi tersebut turut menyoroti berbagai persoalan sosial, seperti berkembangnya budaya materialisme dan minimnya keteladanan. Selain itu, perubahan pola interaksi akibat perkembangan teknologi digital juga menjadi tantangan dalam penerapan nilai-nilai kebangsaan.
Perkembangan ruang digital yang memberikan akses informasi secara luas juga menghadirkan tantangan berupa cepatnya penyebaran berita bohong. Karena itu, kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi menjadi bagian penting dalam membangun perilaku positif di ruang digital.
“Prinsip saring sebelum membagikan informasi menjadi salah satu langkah paling sederhana yang dapat diterapkan warga sebagai bentuk nyata pengamalan ideologi di ruang digital,” jelasnya.
Webinar Nasional IMPI mengangkat tema ‘Implementasi Nilai-Nilai Pancasila melalui Pendekatan Komunikasi Partisipatif dan Aplikatif’. Forum tersebut juga menjadi wadah bagi peserta untuk membahas berbagai persoalan sosial yang muncul di tengah masyarakat.
Salah satu persoalan yang dibahas adalah semakin berkurangnya empati sosial di lingkungan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam mempertahankan nilai gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan sebagai bagian dari kehidupan berbangsa.
Fadeli menilai pengamalan Pancasila harus tumbuh dari kesadaran setiap individu dan diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar kewajiban untuk mengetahui maupun menghafal rumusan dasar negara.
“Pengamalan dasar negara ini tidak boleh berhenti sebagai semboyan kosong. Nilai tersebut akan berumur panjang jika tumbuh menjadi gerakan sosial dari kesadaran setiap individu,” pungkas Fadeli. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!