Gejolak Harga Minyak Guncang BBM di Eropa, AS Makin Tertekan untuk Akhiri Perang

Gejolak Harga Minyak Guncang BBM di Eropa, AS Makin Tertekan untuk Akhiri Perang

Jakarta, kamerausantar.id - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong negara-negara Group of Seven (G7) mempertimbangkan pelepasan cadangan minyak darurat guna menstabilkan pasar energi global. Kelompok yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang itu memberi sinyal langkah tersebut di tengah lonjakan harga minyak dunia.

Meski harga minyak sempat turun kembali ke bawah 90 dolar AS per barel, dampaknya sudah terasa di pasar bahan bakar ritel dan grosir di sejumlah negara Eropa.

Harga BBM Melonjak di Sejumlah Negara Eropa

Di Lithuania, harga rata-rata bensin di tingkat ritel naik menjadi sekitar 1,58 euro per liter, sementara diesel mencapai 1,93 euro per liter. Kenaikan ini setara dengan peningkatan sekitar 7,3 persen untuk bensin dan 17,6 persen untuk diesel dibandingkan pekan sebelumnya.

Sementara itu di Bosnia dan Herzegovina, lonjakan harga diesel bahkan lebih tajam. Di wilayah Republika Srpska, harga diesel naik sekitar 25 persen sejak awal Maret. Di wilayah Federasi Bosnia dan Herzegovina, harga rata-rata diesel kini mendekati 1,62 dolar AS per liter atau naik sekitar 16,7 persen dibandingkan akhir Februari.

Pasar Gas Eropa Ikut Terguncang

Gejolak energi juga terjadi di pasar gas alam Eropa. Kontrak berjangka gas alam Dutch TTF untuk pengiriman April melonjak 11,59 persen menjadi sekitar 59,57 euro per megawatt-jam pada awal pekan ini.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan harga 31,96 euro per megawatt-jam pada 27 Februari, atau naik sekitar 86 persen hanya dalam enam hari perdagangan.

Kondisi ini turut menekan pasar saham Eropa. Indeks FTSE 100 di Inggris ditutup turun 0,34 persen, sementara indeks DAX di Jerman melemah 0,77 persen dan indeks CAC 40 di Prancis terkoreksi 0,98 persen.

IEA Siap Lepas Cadangan Minyak

Untuk merespons volatilitas pasar energi, para menteri keuangan negara G7 menggelar pertemuan virtual bersama Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol.

Birol menyatakan kondisi pasar energi global memburuk dalam beberapa hari terakhir sehingga berbagai opsi mulai dipertimbangkan, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat milik negara anggota.

Negara-negara anggota IEA sendiri diwajibkan memiliki cadangan minyak yang setara dengan setidaknya 90 hari impor bersih untuk mengantisipasi gangguan pasokan global.

Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure mengatakan negara-negara G7 siap mengambil langkah stabilisasi pasar bila diperlukan, meski saat ini pelepasan cadangan strategis belum dianggap mendesak.

Data IEA menunjukkan Prancis memiliki cadangan minyak setara sekitar 122 hari impor bersih hingga November 2025.

Negara Eropa Mulai Ambil Langkah Darurat

Sejumlah negara Eropa juga mulai mengambil langkah pencegahan untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

Serbia memutuskan menangguhkan sementara ekspor minyak mentah dan produk bahan bakar hingga 19 Maret untuk mencegah kekurangan pasokan. Sementara Kroasia menetapkan batas harga bahan bakar sementara hingga 23 Maret.

Tanpa kebijakan tersebut, harga diesel di Kroasia diperkirakan dapat mencapai 1,72 euro per liter. Namun pemerintah membatasi harga maksimal di kisaran 1,55 euro per liter.

Ancaman Inflasi dan Perlambatan Ekonomi

Para ekonom memperingatkan bahwa gangguan pasokan energi global yang berlangsung lama dapat memperburuk tekanan inflasi di kawasan Zona Euro.

Kepala Ekonom Commerzbank, Joerg Kraemer, mengatakan harga minyak yang tetap tinggi selama beberapa bulan berpotensi menaikkan inflasi kawasan tersebut lebih dari satu poin persentase serta memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Perhitungan Institut Ekonomi Jerman juga menunjukkan jika harga minyak bertahan di sekitar 100 dolar AS per barel, maka produk domestik bruto Jerman bisa menyusut sekitar 0,3 persen pada tahun ini dan 0,6 persen pada 2027. Dampaknya diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi sekitar 40 miliar euro dalam dua tahun.

Jika harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel dan bertahan di level tersebut, kerugian ekonomi Jerman bahkan bisa melampaui 80 miliar euro.

Dampak Juga Terasa di AS dan Asia

Lonjakan harga energi juga mulai terasa di berbagai wilayah lain. Di sejumlah negara Asia Tenggara, antrean panjang dilaporkan terjadi di stasiun pengisian bahan bakar.

Di Amerika Serikat, harga rata-rata bensin naik menjadi sekitar 3,48 dolar AS per galon, atau hampir 50 sen lebih tinggi dibandingkan sepekan sebelumnya. Sementara harga diesel meningkat menjadi sekitar 4,66 dolar AS per galon.

Kepala analis pasar FxPro, Alex Kuptsikevich, menilai Amerika Serikat mungkin lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak karena kini menjadi pengekspor bersih energi.

Meski demikian, ia mengingatkan kenaikan harga energi yang terlalu cepat tetap berpotensi mendorong tekanan ekonomi dan bahkan memicu risiko resesi di negara tersebut.

Sementara itu, Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan pemerintahannya belum mempertimbangkan penggunaan cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve, dengan alasan pasokan energi domestik masih mencukupi dan harga diperkirakan akan kembali stabil. (kls)

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement