Jakarta, Kameranusantara.id - Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik dan bahan bakunya dipicu oleh dinamika geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi ini berdampak pada terganggunya pasokan minyak dunia, termasuk akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
"Saat ini memang bahan baku yakni biji plastik mengalami kenaikan ya tentunya karena pengaruh dari konflik geopolitik AS-Iran. Sedangkan biji plastik sebagai bahan baku plastik, Indonesia masih mengimpor," kata Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku biji plastik membuat industri dalam negeri sangat rentan terhadap fluktuasi global, terutama yang berkaitan dengan harga minyak bumi sebagai bahan dasar produksi plastik.
"Yang pasti pemerintah memastikan bahan baku untuk kebutuhan industri manufaktur dan plastik itu bisa terjamin," jelasnya.
Di sisi lain, pelaku industri merasakan dampak signifikan dari kenaikan harga tersebut. Ketua Apindo Jawa Tengah, Frans Kongi, menyebut lonjakan harga bahan baku plastik terjadi secara drastis dalam waktu singkat.
"Ini gila-gilaan harga bahan baku plastik naik sampai 100 persen dan hampir satu bulan ini. Naiknya harga plastik banyak dirasakan oleh pengusaha industri plastik," kata Frans Kongi.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga tersebut erat kaitannya dengan meningkatnya harga minyak dunia sebagai imbas konflik global.
"Akibat konflik geopolitik AS dan Iran harga minyak dunia naik, berpengaruh juga ke biji-biji plastik. Semua ini kan ada kaitannya dengan minyak bumi, biji plastik kan bahannya juga dari minyak bumi," jelasnya.
Meski dampaknya belum sepenuhnya menekan pelaku industri, kondisi ini berpotensi memburuk apabila terus berlangsung dalam jangka panjang.
"Naik 100 persen itu memang belum seluruhnya mencekik pengusaha plastik tapi kalau terus dibiarkan ya dampaknya akan semakin buruk," ujarnya.
Kenaikan harga bahan baku juga memaksa sejumlah pelaku industri untuk menyesuaikan kapasitas produksi.
"Banyak pengusaha yang sudah mengeluh mahalnya bahan baku plastik dan mau gak mau mereka akhirmya mengurangi jumlah produksinya. Mereka gak mampu lagi produksi banyak," terangnya.
Dampak lanjutan juga dirasakan pada harga produk di pasar yang ikut mengalami kenaikan signifikan.
"Harga biji plastik kan naik 100 persen dan otomatis pengusaha plastik juga akan menaikkan ongkos produksinya. Dampaknya, harga produk plastik di pasaran juga ikut naik 100 persen. Kalau semakin mahal harga plastiknya, ya daya beli masyarakat akan ikut turun. Dampaknya bisa sampai ke situ," ucapnya.
Frans pun berharap pemerintah tidak hanya memastikan ketersediaan bahan baku, tetapi juga menghadirkan solusi konkret untuk menahan laju kenaikan harga.
"Jangan hanya bilang kebutuhan bahan baku plastik aman dan dijamin, tapi carikan solusimya biar bahan baku plastik ini tidak naik terus," ungkapnya. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!