JAKARTA, kameranusantara.id – Organisasi Migrasi Internasional (IOM) memperingatkan maraknya pusat penipuan daring (scam center) di Asia yang kini mempekerjakan hingga 300.000 orang. Kompleks-kompleks tersebut berkembang pesat di Myanmar, Kamboja, dan Laos dengan memanfaatkan korban perdagangan manusia sebagai pelaku penipuan.
Dalam laporannya, IOM menyebut jaringan scam menyasar korban di berbagai negara, terutama masyarakat lanjut usia di negara-negara Barat, melalui berbagai modus penipuan digital. Mengutip data Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), kerugian akibat penipuan daring di Asia Timur, Australia, dan Selandia Baru sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 114 miliar dolar AS.
IOM menegaskan, sebagian besar pekerja di pusat-pusat penipuan tersebut sebenarnya merupakan korban perdagangan manusia. Mereka direkrut melalui iklan lowongan kerja palsu yang menawarkan gaji tinggi, khususnya bagi pencari kerja yang menguasai bahasa Inggris dan memiliki latar belakang pendidikan memadai.
Setelah tiba di lokasi, dokumen para korban disita dan mereka dipaksa menjalankan aksi penipuan di bawah ancaman kekerasan, intimidasi, hingga penyiksaan.
Direktur Jenderal IOM Amy Pope mengatakan para korban umumnya mengalami trauma, terlilit utang, serta menghadapi stigma setelah berhasil keluar dari jaringan tersebut.
Menurutnya, para korban dipaksa melakukan kejahatan melalui ancaman dan kekerasan, sehingga diperlukan kerja sama internasional untuk menyelamatkan korban, membongkar jaringan perdagangan manusia, serta menutup celah yang dimanfaatkan kelompok kriminal.
IOM memperkirakan korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja di pusat scam berasal dari lebih dari 80 negara. Sejak 2022 hingga 2025, lembaga tersebut telah memberikan bantuan kepada lebih dari 3.500 korban dari hampir 40 negara, termasuk warga Indonesia, India, Sri Lanka, Etiopia, Kenya, dan Bangladesh.
Meski sejumlah korban berhasil dibebaskan melalui operasi aparat atau melarikan diri, sebagian masih menghadapi persoalan hukum ketika kembali ke negara asal.
IOM juga mengapresiasi langkah sejumlah negara, termasuk Thailand, yang mulai gencar membongkar pusat-pusat penipuan. Namun, organisasi tersebut menilai upaya penegakan hukum masih perlu diperkuat, terutama di wilayah terpencil yang menjadi basis operasi jaringan kriminal lintas negara.
Selain penindakan, IOM mendorong peningkatan perlindungan bagi korban, pemulangan yang aman, program reintegrasi, serta edukasi publik agar masyarakat lebih waspada terhadap modus rekrutmen kerja palsu yang digunakan sindikat perdagangan manusia. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!