Perundingan AS dan Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan, Awas Perang di Depan Mata!

Perundingan AS dan Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan, Awas Perang di Depan Mata!

Jakarta, kameranusantara.id - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran berakhir tanpa kesepakatan dalam pertemuan di Jenewa, Kamis. Situasi ini memicu kekhawatiran meningkatnya tensi di Timur Tengah, terlebih di tengah pengerahan besar-besaran armada militer AS ke kawasan tersebut.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang memediasi dialog, menyebut ada “kemajuan signifikan” dalam negosiasi. Namun, tidak ada rincian yang disampaikan dan kedua pihak tetap bersikukuh pada posisi masing-masing.

Menjelang akhir pembicaraan, media pemerintah Iran melaporkan Teheran akan terus memperkaya uranium, menolak pemindahan stoknya ke luar negeri, serta menuntut pencabutan sanksi internasional. Sikap ini bertolak belakang dengan keinginan Presiden Donald Trump yang mendorong pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut perundingan kali ini sebagai salah satu yang paling panjang dan intens. Ia menegaskan perang tidak akan membawa kemenangan bagi siapa pun dan dapat menyeret seluruh kawasan ke dalam konflik lebih luas.

Sementara itu, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, memimpin delegasi Washington dalam pembicaraan tersebut. Diskusi teknis lanjutan dijadwalkan berlangsung di Wina, markas International Atomic Energy Agency (IAEA), yang diperkirakan memegang peran penting dalam verifikasi kesepakatan apa pun.

Di Washington, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuding Iran berupaya membangun kembali elemen program nuklirnya, meski badan intelijen AS menilai Teheran belum mengaktifkan kembali program senjata nuklir.

Ketegangan makin terasa karena Iran memperingatkan bahwa pangkalan militer AS di kawasan bisa menjadi target bila terjadi serangan. Teheran juga membuka kemungkinan menyerang Israel, skenario yang berpotensi memicu perang regional.

Kekhawatiran pasar turut meningkat. Harga minyak mentah Brent bergerak naik mendekati USD70 per barel, dipicu potensi gangguan di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Dengan perundingan belum membuahkan hasil konkret, ancaman eskalasi militer masih membayangi. Masa depan stabilitas Timur Tengah kini sangat bergantung pada apakah jalur diplomasi mampu mencegah konflik terbuka. (kls)

Olahraga

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Konflik Global Memanas, FIFA Tetap Targetkan Piala Dunia 2026 Diikuti Semua Negara

Jakarta, Kamerranusantara.id- Meski dinamika geopolitik global tengah memanas, badan sepak bola dunia FIFA menegaskan keinginannya agar Iran tetap

Advertisement