FLORES TIMUR, kameranusantara.id – Kepolisian Resor Flores Timur menegaskan bentrokan yang terjadi antara warga Desa Narasaosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur, dipicu oleh sengketa batas wilayah yang telah berlangsung sejak lama. Polisi menilai penyelesaian konflik tidak cukup mengandalkan proses hukum, tetapi juga memerlukan pendekatan adat dan budaya.
Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra mengatakan akar persoalan berasal dari konflik batas desa yang memiliki dimensi sejarah, sehingga membutuhkan penyelesaian yang melibatkan seluruh unsur masyarakat.
Ia sekaligus meluruskan informasi yang beredar bahwa bentrokan dipicu sengketa lahan untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Menurutnya, konflik tersebut berkaitan dengan persoalan batas wilayah yang telah berlangsung lama.
Adhitya menilai nilai-nilai budaya masyarakat Adonara, khususnya semangat persaudaraan atau kaka ari, dapat menjadi modal penting dalam proses rekonsiliasi. Karena itu, tokoh adat diharapkan berperan aktif memulihkan hubungan antara kedua kelompok masyarakat melalui dialog dan musyawarah.
Pemerintah daerah bersama TNI dan Polri, lanjutnya, telah memfasilitasi berbagai langkah penyelesaian, termasuk menggelar Sarasehan Penanganan Konflik Komunal Kabupaten Flores Timur 2026 di Desa Horinara. Forum tersebut mempertemukan tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah, dan aparat keamanan untuk mencari solusi atas konflik yang terjadi.
Saat ini, proses rekonsiliasi masih berlangsung dengan mengedepankan pendekatan dialog, kearifan lokal, serta pengamanan yang humanis. Kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar melalui media sosial.
Selain itu, masyarakat diajak menghidupkan kembali semangat gotong royong dan persaudaraan sebagai bagian dari budaya Flores Timur guna mendukung terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.
Kapolres memastikan TNI, Polri, dan pemerintah daerah akan terus mendampingi masyarakat hingga situasi benar-benar kondusif.
Sebelumnya, bentrokan kembali pecah pada Sabtu (18/7/2026). Peristiwa tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, lima orang mengalami luka-luka, serta sekitar 20 rumah warga dilaporkan terbakar. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!