Jakarta,Kameranusantara.id - Sektor sumber daya alam (SDA) masih menjadi tulang punggung ekspor Indonesia. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan sekitar 60% total ekspor nasional berasal dari komoditas SDA, dengan batubara, minyak sawit mentah (CPO), dan ferro alloy menjadi penyumbang terbesar. Pada 2024, batubara menjadi komoditas ekspor terbesar dengan kontribusi 8,65% terhadap total ekspor Indonesia, disusul CPO sebesar 8,63% dan ferro alloy 5,82%. Nilai ekspor ketiganya mencapai us$ 72,05 miliar atau setara sekitar Rp 1.152 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dollar AS.
Rinciannya, ekspor batubara mencapai US$ 30,49 miliar, produk sawit US$ 27,76 miliar dan ferro alloy sekitar US$ 13,8 miliar.
Besarnya kontribusi tersebut mendorong munculnya dorongan agar pengelolaan ekspor komoditas strategis semakin terintegrasi sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi negara.
Pengamat pasar modal Fendi Susiyanto menilai batubara, sawit, dan nikel merupakan aset strategis Indonesia yang seharusnya mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian nasional.
“Batubara, sawit, dan nikel sangat strategis dan volume ekspornya sangat tinggi. Sebagai aset sumber daya alam, mestinya komoditas-komoditas penting dunia itu bisa memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada perekonomian,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Menurut Fendi, langkah pemerintah membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) relevan untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas SDA. Ia menilai lalu lintas ekspor komoditas selama ini masih menghadapi tantangan dari sisi transparansi dan akuntabilitas, termasuk karena sebagian eksportir memiliki perusahaan afiliasi di luar negeri.
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!