Jakarta - CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan
Roeslani, menyampaikan bahwa pihaknya masih dalam tahap mengkaji berbagai opsi
skema penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang dikelola oleh
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Rosan menekankan bahwa evaluasi saat ini masih bersifat
internal dan belum ada komunikasi resmi dengan kementerian terkait, termasuk
dengan Kementerian Keuangan.
“Kami sedang mengevaluasi, kami lagi mencari opsi-opsi,
kan selalu ada opsi satu, opsi dua. Dan memang, ini kan melibatkan banyak
kementerian lain,” ujar Rosan ditemui usai menghadiri Forbes CEO Global
Conference di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan di
Danantara dilakukan secara sistematis, dengan memperhatikan ketepatan dan
keterukuran dalam setiap langkah.
“Jadi harapannya kami kan biasanya duduk dulu, evaluasi,
opsi mana yang terbaik. Kalau kami kan sistem pekerjaannya seperti itu. Jadi
semuanya itu terstruktur, terukur, kemudian apa hasilnya baru kami bicara ke
publik,” ucap Rosan.
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony
Oskaria, mengungkapkan dua skema penyelesaian yang sedang dianalisis. Opsi
pertama yaitu melalui penambahan equity atau suntikan dana baru. Opsi kedua,
dengan menyerahkan infrastruktur proyek ke negara, sehingga menjadi aset milik
pemerintah, seperti halnya model kepemilikan infrastruktur di sektor
perkeretaapian lainnya.
“Apakah kemudian kita tambahkan equity yang pertama atau
kemudian memang ini kita serahkan infrastrukturnya sebagaimana industri kereta
api yang lain, infrastrukturnya itu milik pemerintah,” kata Dony di Jakarta,
Kamis (9/10).
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
kembali menegaskan bahwa APBN tidak akan digunakan untuk menanggung beban utang
proyek kereta cepat tersebut.
Ia mendorong agar pembiayaan diselesaikan oleh Danantara
yang dinilai memiliki sumber daya keuangan dan kapasitas manajerial yang cukup.
“Kalau dibuat Danantara kan mereka sudah punya manajemen
sendiri, sudah punya dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa Rp80 triliun
atau lebih. Harusnya mereka 'manage' dari situ, jangan sampai kita lagi,” kata
Purbaya dalam acara Media Gathering Kemenkeu 2025 di Bogor, Jumat (10/10).
Purbaya juga menambahkan bahwa pemerintah ingin
mempertegas porsi antara sektor swasta dan pemerintah dalam pembiayaan
infrastruktur, guna menghindari peningkatan beban fiskal. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!