Jakarta, Kameranusantara.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu sore. Mata uang Garuda terkoreksi sebesar 45 poin atau 0,25 persen menjadi Rp17.952 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.907 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh masih tingginya ketidakpastian global, terutama terkait perkembangan negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan signifikan.
“Ketidakpastian atas kemajuan negosiasi perdamaian AS-Iran mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar, bahkan ketika produksi minyak mentah AS yang mencapai rekor tertinggi menggarisbawahi peningkatan pasokan global,” ucapnya di Jakarta, Rabu.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomasi di Qatar setelah Iran menolak melakukan pembicaraan langsung dengan utusan senior Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Teheran memilih melanjutkan komunikasi melalui mediator pada tingkat teknis.
Kondisi tersebut dinilai memperpanjang ketidakpastian mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen setelah gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam setelah meredanya konflik Iran. Harga minyak Brent tercatat turun sekitar 38 persen sepanjang kuartal kedua setelah sebelumnya melonjak sekitar 94 persen pada kuartal pertama. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak kuartal pertama 2020.
Selama Juni, harga minyak Brent juga mengalami koreksi sekitar 21 persen setelah sebelumnya turun 19 persen pada Mei. Pelemahan ini dipicu berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
“Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka, termasuk masa depan Selat Hormuz,” kata Ibrahim.
Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve).
Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat meningkat menjadi 7,594 juta pada Mei, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pasar sebesar 7,3 juta. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen Conference Board AS pada Juni turut mengalami peningkatan seiring meredanya ketegangan geopolitik yang mendorong penurunan harga energi.
“Perhatian sekarang beralih ke laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis malam ini, diikuti oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Kamis (2/7), yang akan dirilis sehari lebih awal di tengah pekan yang dipersingkat karena hari libur AS,” ujar dia.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi oleh rilis data Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS. Kondisi tersebut menjadi defisit pertama setelah Indonesia membukukan surplus perdagangan selama enam tahun terakhir.
“Kondisi defisit itu disebabkan nilai impor yang lebih tinggi dari ekspor, yakni sebesar 24,81 miliar dolar AS, sedangkan ekspor RI 23,20 miliar dolar AS. Ini adalah defisit pertama RI sejak surplus selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020,” ungkapnya.
Sementara itu, tingkat inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan inflasi terutama dipengaruhi oleh kelompok pengeluaran makanan, perawatan pribadi, serta transportasi.
Meski demikian, realisasi inflasi masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia. Hal tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026.
Sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia juga melemah menjadi Rp17.961 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp17.899 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, perkembangan geopolitik, serta berbagai indikator ekonomi utama baik dari Amerika Serikat maupun kondisi fundamental ekonomi domestik.
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!