Jakarta, kameranusantara.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 hanya ditopang belanja pemerintah. Menurutnya, kontribusi terbesar justru datang dari konsumsi masyarakat dan investasi.
Purbaya menjelaskan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada Januari-Maret 2026 tidak bisa dibaca hanya dari sisi pengeluaran negara. Ia menilai sejumlah analis keliru dalam menghitung sumber pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kontribusi terbesar tetap berasal dari konsumsi masyarakat dan investasi,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta.
Ia merinci, konsumsi masyarakat menyumbang sekitar 2,9 persen terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara investasi berkontribusi 1,7 persen. Adapun belanja pemerintah memberikan kontribusi sekitar 1,3 persen.
Dengan komposisi tersebut, Purbaya menegaskan daya beli masyarakat masih terjaga dan menjadi fondasi utama penggerak ekonomi nasional.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Angka itu menjadi pertumbuhan triwulan pertama tertinggi sejak 2021.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan capaian tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di level 4,87 persen.
Meski tumbuh positif secara tahunan, ekonomi Indonesia secara kuartalan tercatat mengalami kontraksi 0,77 persen.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menilai peningkatan investasi menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Rosan, kontribusi investasi terhadap pertumbuhan ekonomi kini mencapai sekitar 32 persen, lebih tinggi dibanding tren sebelumnya yang berkisar 28 hingga 29 persen.
Ia menyebut realisasi investasi yang melampaui target pemerintah turut memperkuat kinerja ekonomi Indonesia pada awal 2026. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!