Jakarta, Kameranusantara.id - Harga minyak dunia kembali mencatat penguatan lebih dari 2 persen pada perdagangan awal Selasa (17/3). Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah jenis Brent crude oil naik sekitar 2,5 persen atau US$2,48 sehingga mencapai level US$102,69 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) turut menguat 2,6 persen atau sekitar US$2,42 menjadi US$95,92 per barel.
Penguatan harga tersebut sekaligus membalikkan tren pelemahan pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada saat itu, Brent sempat terkoreksi 2,8 persen dan WTI turun hingga 5,3 persen setelah sejumlah kapal masih dilaporkan dapat melintas di jalur pelayaran utama tersebut.
Pasar global kini memantau secara ketat potensi gangguan distribusi energi menyusul terganggunya aktivitas di Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini merupakan rute vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Gangguan tersebut terjadi akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini telah memasuki pekan ketiga. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi kekurangan pasokan energi, lonjakan biaya bahan bakar, serta tekanan inflasi global.
Di sisi lain, sejumlah sekutu Amerika Serikat menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk mengirim kapal perang guna mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Penolakan tersebut mendapat kritik dari Trump yang menilai sekutu Barat kurang menunjukkan dukungan.
Analis pasar dari IG Group, Tony Sycamore, menilai risiko eskalasi di kawasan masih sangat tinggi. Menurutnya, situasi dapat kembali memanas hanya dengan satu serangan terhadap kapal tanker.
"Risikonya tetap besar. Hanya dibutuhkan satu milisi Iran untuk menyerang tanker agar situasi kembali memanas," ujarnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga dilaporkan meminta India untuk membebaskan tiga kapal tanker yang disita sejak Februari. Permintaan tersebut menjadi bagian dari negosiasi yang bertujuan menjaga keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak pada produksi minyak global. OPEC menyebut Uni Emirat Arab, yang merupakan produsen minyak terbesar ketiga dalam kelompok tersebut, terpaksa memangkas produksi hingga lebih dari separuh akibat terganggunya jalur distribusi.
Untuk menahan lonjakan harga energi, pimpinan International Energy Agency (IEA) mengusulkan pelepasan tambahan cadangan minyak global. Langkah ini melengkapi rencana sebelumnya yang telah menyetujui pelepasan sekitar 400 juta barel cadangan.
Sejumlah lembaga keuangan internasional juga mulai merevisi proyeksi harga minyak jangka panjang. Bank of America menaikkan perkiraan harga Brent pada 2026 menjadi US$77,50 per barel dari proyeksi sebelumnya US$61. Sementara Standard Chartered merevisi proyeksi menjadi US$85,50 dari sebelumnya US$70 per barel.
Menurut Bank of America, terdapat dua kemungkinan skenario yang dapat terjadi. Jika konflik mereda dengan cepat, harga minyak berpotensi turun hingga sekitar US$70 per barel. Namun jika gangguan pasokan berlangsung lama, harga bisa melonjak hingga US$85 per barel.
Sementara itu, pemerintah Israel menyatakan telah menyiapkan rencana operasi militer yang diperkirakan berlangsung setidaknya tiga pekan ke depan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah serangan militer dilancarkan ke sejumlah target di wilayah Iran pada malam sebelumnya. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!