DENPASAR, kameranusantara.id — Lahan sawah di Bali terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Dalam kurun delapan tahun, sekitar 3.000 hektare sawah beralih fungsi, mengancam lanskap hijau yang selama ini menjadi daya tarik utama pariwisata Pulau Dewata.
Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti kondisi tersebut dan mendorong percepatan penerapan sistem pertanian organik sebagai langkah penyelamatan. Ia menyebut luas sawah yang sebelumnya sekitar 71 ribu hektare kini tersisa sekitar 68 ribu hektare.
“Kita akan percepat transformasi pertanian organik,” ujarnya dalam rapat paripurna di DPRD Bali, Rabu (25/3/2026).
Saat ini, sekitar 65 persen lahan pertanian di Bali telah menerapkan sistem organik. Pemerintah menargetkan seluruh kabupaten/kota di Bali sudah beralih ke pertanian organik paling lambat 2028.
Koster menegaskan, Bali memiliki keunggulan karena didukung regulasi daerah terkait pertanian organik, yang juga mendapat perhatian dari Kementerian Pertanian.
Transformasi ini tidak hanya ditujukan untuk menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat sektor pariwisata. Pertanian organik dinilai mampu menjaga keasrian lanskap sawah, sekaligus mendukung konsep wisata berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah daerah juga berupaya menekan alih fungsi lahan produktif serta mendorong penggunaan produk lokal oleh pelaku usaha, termasuk hotel dan restoran, guna menggerakkan ekonomi masyarakat. “Kita harus tumbuh bersama, saling mendukung, agar ekonomi Bali tetap kuat dan berkelanjutan,” kata Koster. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!