Jakarta, Kameranusantara.id - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meminta dukungan sejumlah negara untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah wilayah tersebut diblokade oleh Iran akibat konflik yang sedang berlangsung. Namun, negara-negara Eropa justru kompak menolak permintaan dari Washington tersebut.
Dihimpun dari berbagai kantor berita internasional pada Rabu (18/3/2026), Iran diketahui resmi menutup Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Penutupan jalur strategis itu langsung memicu gangguan terhadap rute penting perdagangan energi dunia.
Menyusul situasi tersebut, Trump kemudian menyinggung para sekutu Washington agar ikut mengirimkan kekuatan angkatan laut ke Selat Hormuz guna mengamankan jalur pelayaran. Namun, seruan tersebut tidak memperoleh sambutan positif, terutama dari negara-negara Eropa.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan bahwa negara-negara Uni Eropa "tidak memiliki keinginan untuk secara aktif terlibat dalam aksi militer terhadap Iran".
Dalam pernyataan yang disampaikan usai pertemuan para Menteri Luar Negeri Uni Eropa di Brussels, Belgia, Kallas menegaskan bahwa Eropa "tidak tertarik pada perang tanpa akhir". Ia juga menekankan bahwa konflik dengan Iran bukanlah "perangnya Eropa".
Kallas menjelaskan bahwa fokus utama Uni Eropa saat ini adalah memperkuat keamanan maritim. Namun demikian, ia menegaskan tidak ada rencana dari negara-negara anggota untuk memperluas operasi yang sudah berjalan, seperti Operasi Aspides di Laut Merah ataupun memperluasnya hingga ke Selat Hormuz.
"Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini," tegasnya, seraya menambahkan bahwa prioritas Uni Eropa adalah menjaga kebebasan navigasi serta meningkatkan upaya diplomasi.
Sikap serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani. Ia menegaskan bahwa misi Angkatan Laut Uni Eropa yang selama ini bertugas mengawal kapal dagang dan menjalankan operasi antipembajakan tidak dirancang untuk beroperasi di Selat Hormuz.
"Kami bersedia memperkuat misi-misi ini. Tetapi saya rasa misi-misi tersebut tidak dapat diperluas hingga mencakup Selat Hormuz," ujarnya.
Sementara itu, Jerman juga menolak mengirimkan pasukan ke kawasan Teluk. Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menegaskan bahwa Berlin "tidak akan melakukannya" dan menyerukan penyelesaian politik yang cepat atas konflik tersebut.
Penolakan serupa juga datang dari Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya "tidak akan terseret ke dalam perang yang lebih luas", meskipun mendapat tekanan dari Amerika Serikat.
Selain itu, Polandia dan Belgia turut menolak ajakan Washington untuk mengerahkan kekuatan angkatan laut. Kedua negara menegaskan bahwa pendekatan diplomasi dan upaya menjaga stabilitas kawasan tetap menjadi prioritas utama.
Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, bahkan mengkritik Trump karena menggambarkan NATO seolah terpisah dari Amerika Serikat saat meminta dukungan Eropa dalam operasi militer di kawasan Teluk. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belgia, Bart De Wever, menegaskan negaranya tidak akan bergabung dalam serangan apa pun bersama Amerika Serikat dan Israel. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!