Jakarta, kameranusantara.id - Indonesia menyimpan potensi besar logam tanah jarang (LTJ) yang kerap disebut sebagai “harta karun” masa depan karena perannya vital dalam industri teknologi tinggi. Namun, ambisi mengembangkan komoditas strategis ini masih terbentur tembok besar: akses teknologi pengolahan yang dikuasai negara-negara maju.
Badan Industri Mineral (BIM) mengakui penguasaan teknologi pemisahan dan pemurnian LTJ menjadi tantangan utama. Negara-negara pemilik teknologi disebut enggan melakukan transfer teknologi dan lebih memilih membeli bahan mentah dari Indonesia untuk diolah di negaranya sendiri.
Kepala BIM, Brian Yuliarto, mengungkapkan pihaknya telah menjajaki kerja sama dengan sejumlah negara. Namun, sebagian besar menolak berinvestasi dalam pengolahan di dalam negeri.
Menurutnya, teknologi pemisahan LTJ hingga menjadi unsur tunggal (element) sangat kompleks dan bernilai strategis. Indonesia saat ini baru mampu memproduksi hingga tahap campuran oksida (mixed rare earth oxide), sementara pengolahan hingga elemen murni belum tersedia.
“Kita sedang mencari skema kerja sama, salah satunya dengan menawarkan posisi sebagai offtaker atau pembeli tetap,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Sebagai respons atas keterbatasan akses teknologi, pemerintah mendorong penguatan riset domestik dan pembentukan entitas khusus. Melalui Danantara, dibentuk PT Pertambangan Mineral Nasional (Perminas) untuk membangun industri pemisahan dan pemurnian LTJ, sekaligus menyiapkan proyek percontohan hilirisasi di Mamuju, Sulawesi Barat.
Di sisi lain, BIM tetap membuka peluang kemitraan internasional. Sejumlah perusahaan dan lembaga asing telah dijajaki sebagai calon mitra teknologi, investor, maupun offtaker. Dari Australia terdapat Iluka Resources dan Lynas Rare Earths. Jepang diwakili Iwatani Corporation dan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC).
Selain itu, Prancis melalui Carester, Finlandia lewat Metso, Rusia dengan Rusal, China melalui China Minmetals, Uni Emirat Arab lewat New Energy Metal, serta Kanada melalui Saskatchewan Research Council juga masuk dalam daftar penjajakan.
Meski pintu teknologi belum sepenuhnya terbuka, pemerintah menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah. Strategi jangka panjang diarahkan pada penguasaan teknologi dan penguatan hilirisasi agar nilai tambah logam tanah jarang dapat dinikmati di dalam negeri. (kls)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!