Rupiah Tertekan, BI Optimalkan Triple Intervention untuk Redam Gejolak

Rupiah Tertekan, BI Optimalkan Triple Intervention untuk Redam Gejolak

JAKARTA, kameranusantara.id – Bank Indonesia (BI) memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang terus tertekan di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan transisi kepemimpinan bank sentral.

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bank sentral akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter guna menjaga stabilitas rupiah sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi.

Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkuat triple intervention di pasar valuta asing, yakni melalui intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas swap dan lindung nilai (DNDF hedging). Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menarik aliran modal asing ke pasar domestik.

"Bank Indonesia terus berkomitmen menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan," ujar Erwin.

Dari sisi likuiditas, BI juga memperkuat pengelolaan pasar uang dan perbankan agar transmisi kebijakan moneter berjalan lebih efektif.

Data BI menunjukkan minat investor asing terhadap SRBI terus meningkat. Kepemilikan nonresiden naik dari Rp238,09 triliun pada 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun pada 20 Juli 2026, atau sekitar 27,11 persen dari total posisi SRBI.

Ke depan, penerbitan SRBI akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas sekaligus mendukung masuknya modal asing untuk memperkuat stabilitas rupiah. 

Di samping menjaga stabilitas pasar keuangan, BI juga memastikan kebijakan moneter tetap mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), peningkatan efektivitas redistribusi likuiditas perbankan, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran.

Sebelumnya, rupiah mengalami tekanan setelah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI diumumkan pada 27 Juli 2026. Pada perdagangan 28 Juli 2026, mata uang Garuda ditutup melemah 74 poin atau 0,41 persen ke level Rp18.083 per dolar AS, melanjutkan pelemahan sehari sebelumnya sebesar 46 poin ke posisi Rp18.009 per dolar AS. (kls)

Olahraga

Argentina Melaju ke Final Piala Dunia 2026, Messi Soroti Semangat Juang Albiceleste

Argentina Melaju ke Final Piala Dunia 2026, Messi Soroti Semangat Juang Albiceleste

Kameranusantara.id - Kapten Tim Nasional Argentina, Lionel Messi menyampaikan keberhasilan Albiceleste melaju ke final Piala Dunia 2026 merupakan

Advertisement