Jakarta, Kameranusantara.id - Dinamika yang sempat muncul terkait rencana pelaksanaan Misa Penghiburan di kawasan Bulak Timur, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, pada Minggu (28/6), berhasil diselesaikan secara damai melalui pendekatan dialog dan musyawarah. Berbagai pihak bergerak cepat untuk memastikan situasi tetap kondusif sehingga persoalan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Pemuda Lintas Iman dan Toleransi Agama (Pelita) di bawah naungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Depok memberikan apresiasi terhadap penyelesaian permasalahan yang mengedepankan komunikasi serta semangat kebersamaan.
Berdasarkan hasil verifikasi di lapangan, Pelita FKUB Depok menjelaskan bahwa kesalahpahaman berawal ketika sebuah keluarga yang sedang berduka berencana menyelenggarakan Misa Requiem secara mendadak pada pukul 17.00 WIB. Rencana tersebut belum sempat dikoordinasikan dengan pengurus RT dan RW setempat.
Situasi menjadi semakin kompleks karena sejumlah tokoh lingkungan sedang berada di luar wilayah sehingga komunikasi awal tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut memunculkan perbedaan pemahaman antara keluarga dan lingkungan sekitar.
Melihat keterbatasan lokasi di kawasan permukiman padat serta untuk menghindari potensi kesalahpahaman, aparat lingkungan mengambil langkah antisipatif. Camat dan Lurah Cipayung bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta Polres Metro Depok kemudian memfasilitasi dialog guna mencari solusi bersama.
Melalui musyawarah tersebut, seluruh pihak menyepakati pemindahan lokasi ibadah ke LCC Kamboja. Kesepakatan itu dinilai mampu menjamin pelaksanaan ibadah berlangsung dengan khusyuk sekaligus menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat sekitar.
Pelita FKUB Depok juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah menunjukkan sikap dewasa dalam menyelesaikan persoalan, termasuk keluarga yang berduka, aparat pemerintah, tokoh masyarakat, serta para pemuka agama yang berperan membangun komunikasi secara konstruktif.
Menanggapi peristiwa tersebut, Sekretaris Jenderal Pelita FKUB Kota Depok, Laurentius Hagung Baskara, menilai kejadian tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama agar semangat toleransi terus diperkuat melalui kerja sama seluruh elemen masyarakat.
"Sungguh memprihatinkan kejadian ini masih ada di Kota Depok, namun hal ini harus menjadi pembelajaran bersama. Perlu ada kolaborasi dan elaborasi yang nyata dari hulu ke hilir, dari pemerintah kota hingga ke tingkat grassroot dalam memerangi intoleransi," ujar Laurentius, kepada Radar Depok, Rabu (1/7).
Laurentius juga mengingatkan pentingnya menjunjung nilai-nilai budaya saling menghormati atau tepo seliro melalui komunikasi yang baik sebelum menyelenggarakan kegiatan di lingkungan permukiman, sehingga tercipta suasana yang harmonis dan saling menghargai.
Sementara itu, Ketua Pelita FKUB Depok, Achmad Nur Rapiec, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya toleransi, kerukunan, dan persatuan. Ia juga mengajak seluruh pihak agar tidak memanfaatkan peristiwa tersebut untuk kepentingan yang dapat memecah belah masyarakat.
Melalui penyelesaian yang mengedepankan dialog, koordinasi, dan semangat kebersamaan, berbagai pihak berharap kerukunan antarumat beragama di Kota Depok semakin kuat serta menjadi contoh penyelesaian persoalan secara damai dan bermartabat. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!