Kameranusantara.id - Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan, menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara bersama ratusan warga Medan Sunggal di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, Rabu (12/8/2026).
Menurut Sofyan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tidak seharusnya hanya dipahami sebagai materi yang dihafalkan. Keempat pilar tersebut harus menjadi landasan dalam menghadirkan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk persoalan pekerjaan, ekonomi, dan pendidikan.
“4 Pilar ini jangan hanya menjadi hafalan. Pancasila harus kita rasakan. UUD 1945 harus kita perjuangkan. Kalau rakyat sulit mendapatkan pekerjaan dan anak-anak sulit mendapatkan pendidikan, maka kita harus bertanya apakah cita-cita keadilan sosial sudah benar-benar kita wujudkan,” ujar Sofyan.
Ia menilai pendidikan menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, negara memiliki tanggung jawab memastikan pendidikan dasar dapat diakses masyarakat tanpa terkendala persoalan biaya.
Sofyan juga mengingatkan pentingnya menjaga amanat konstitusi terkait alokasi anggaran pendidikan sebesar minimal 20 persen dalam APBN. Menurutnya, anggaran tersebut harus mampu mendukung kebutuhan utama pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas guru, fasilitas sekolah, beasiswa, riset hingga peningkatan mutu pembelajaran.
Dalam konteks tersebut, Sofyan turut menyoroti pembahasan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masuk dalam komponen anggaran pendidikan. Ia menegaskan bahwa dirinya mendukung pemenuhan gizi anak, namun pelaksanaannya tidak boleh mengurangi dukungan terhadap kebutuhan inti pendidikan.
“MBG itu penting. Anak-anak kita harus makan bergizi. Tetapi jangan sampai pendidikan dikorbankan. Jangan sampai anggaran pendidikan yang seharusnya untuk guru, sekolah, sarana pendidikan, beasiswa, riset dan peningkatan mutu pendidikan justru terdesak,” katanya.
Sofyan menilai penguatan 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara harus berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Nilai keadilan sosial dalam Pancasila, jaminan hak pendidikan dalam UUD 1945, semangat persatuan NKRI, serta prinsip Bhinneka Tunggal Ika perlu diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang memberikan kesempatan setara kepada seluruh anak bangsa.
“Jangan pernah mengatakan anak orang miskin tidak punya masa depan. Selama dia mau belajar dan negara memberikan kesempatan, dia bisa mengubah nasib keluarganya,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap optimistis dan mendorong generasi muda agar tidak menyerah menghadapi keterbatasan. Pendidikan dinilai dapat menjadi sarana penting bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup sekaligus membuka peluang masa depan yang lebih baik.
“Jangan menyerah. Pendidikan adalah tangga untuk mengubah nasib. Mungkin kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa berjuang menentukan masa depan kita,” katanya.
Sofyan berharap kegiatan Sosialisasi 4 Pilar tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong masyarakat untuk terus menjaga persatuan sekaligus memperjuangkan pemerataan kesempatan. Menurutnya, semangat kebangsaan harus diwujudkan melalui upaya memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan, mendapatkan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!