Kameranusantara.id - Warga RW 09 Kelurahan Jatisari, Kota Bekasi, berhasil menghadirkan inovasi pengelolaan sampah yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus ekonomi masyarakat. Lokasi yang sebelumnya merupakan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar kini telah bertransformasi menjadi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Di fasilitas tersebut, sampah yang dikumpulkan dari para mitra pemulung terlebih dahulu dipilah sesuai jenisnya. Sampah organik dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metana, sedangkan sampah anorganik, khususnya plastik, diolah menjadi bahan bakar melalui proses pirolisis.
Kepala Divisi Pemasaran dan Ekonomi TPS 3R Jatisari, Herman, menjelaskan bahwa jenis plastik seperti polyester, polypropylene (PP), polyethylene (PE), dan styrofoam menjadi bahan baku utama dalam proses tersebut. Sebelum diolah, seluruh material plastik dipastikan bersih agar menghasilkan kualitas BBM yang optimal.
"Untuk proses pirolisis ini kita membutuhkan waktu kurang lebih antara 6 sampai 7 jam untuk memproses 20 kilogram plastik. Dari 20 kilogram plastik yang kita proses, itu akan mendapatkan antara 16 sampai 17 liter BBM solar dan kurang lebih setengah liter BBM premium," jelas Herman.
Teknologi yang digunakan mengadopsi standar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan sistem pemisahan gas berdasarkan berat jenisnya. Warga juga mengembangkan mesin pirolisis secara mandiri yang diberi nama Pirojet, sehingga proses pengolahan menjadi lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan operasional.
BBM yang dihasilkan dimanfaatkan kembali untuk mengoperasikan mesin-mesin pengolahan sampah di TPS 3R. Langkah tersebut membantu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah.
Selain menghadirkan manfaat lingkungan, program ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sebanyak 15 mitra pemulung terlibat sebagai operator dan memperoleh penghasilan dari aktivitas pengelolaan sampah.
"Selain mengurangi sampah, mereka juga dapat penghasilan. Saya punya cita-cita tempat ini bisa menjadi ekowisata, ada kegiatan perahu dan UMKM, sehingga bisa menjadi sarana edukasi lingkungan bagi warga," ungkap Ketua RW 09 Jatisari, Udi Mauludy.
Keberhasilan TPS 3R Jatisari menunjukkan bahwa inovasi berbasis masyarakat mampu menjadi solusi pengurangan sampah plastik sekaligus mendukung ekonomi sirkular. Model ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan menuju target zero waste. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!