Kameranusantara.id - Meningkatnya hubungan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat dinilai tidak serta-merta menempatkan Indonesia sebagai bagian dari salah satu blok kekuatan global. Politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi prinsip penting yang perlu dipertahankan dalam membangun hubungan dengan berbagai negara.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai Indonesia tetap dapat memperkuat kerja sama militer dan pertahanan dengan Amerika Serikat tanpa harus dipersepsikan mengikuti strategi tertentu untuk menghadapi China.
“Kerja sama militer dan pertahanan dengan Amerika Serikat dapat dilakukan, tetapi itu tidak otomatis berarti Indonesia menjadi bagian dari strategi containment terhadap China,” kata Amir, dikutip Senin 10 Agustus 2026.
Menurut Amir, Indonesia justru memiliki peluang memperoleh manfaat strategis apabila mampu membangun hubungan yang seimbang dengan berbagai kekuatan dunia. Kerja sama dengan Amerika Serikat dapat difokuskan pada peningkatan kapasitas pertahanan, latihan militer, keamanan maritim, pengembangan teknologi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, Indonesia tetap dapat menjaga hubungan ekonomi dan diplomatik dengan China sekaligus memperkuat kemitraan dengan Jepang, India, Australia, Korea Selatan, Rusia, dan negara-negara Eropa.
“Kekuatan Indonesia bukan pada keberpihakan kepada satu kekuatan, melainkan pada kemampuan menjaga ruang gerak strategis,” kata Amir.
Posisi geografis Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang membuat negara-negara besar memberikan perhatian terhadap Indonesia. Sejumlah jalur strategis seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok memiliki peran penting karena menghubungkan kawasan Samudra Hindia dan Pasifik.
Menurut Amir, keamanan jalur-jalur tersebut berkaitan erat dengan perdagangan global, energi, rantai pasok, serta mobilitas militer. Oleh karena itu, kerja sama pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat berpotensi semakin diarahkan pada aspek keamanan maritim.
“Indonesia harus memiliki kemampuan mengetahui apa yang terjadi di wilayah lautnya sendiri. Itu bagian dari kedaulatan,” kata Amir.
Ia menilai kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui peningkatan maritime domain awareness, pengawasan wilayah laut, keamanan jalur pelayaran, pencarian dan penyelamatan, serta penanganan berbagai ancaman lintas batas.
Amir juga mengingatkan bahwa tantangan keamanan saat ini tidak hanya berupa konflik bersenjata secara terbuka. Ancaman dapat berkembang dalam bentuk serangan siber, disinformasi, sabotase infrastruktur, tekanan ekonomi, gangguan rantai pasok, teknologi kecerdasan buatan, keamanan energi, hingga perang informasi.
Karena itu, kerja sama pertahanan Indonesia dengan negara mitra dinilai tidak seharusnya hanya berfokus pada pengadaan alat utama sistem persenjataan.
“Indonesia harus melihat kerja sama pertahanan sebagai pembangunan ekosistem pertahanan nasional, bukan hanya sebagai transaksi pembelian senjata,” ujarnya.
Amir mendorong agar kerja sama pertahanan juga memberikan manfaat jangka panjang bagi kemandirian nasional melalui transfer teknologi, penguatan industri pertahanan dalam negeri, peningkatan kemampuan intelijen dan keamanan siber, pengembangan satelit serta sistem komunikasi, pengawasan maritim, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. (*)
















Komentar
Tuliskan Komentar Anda!